Catatan Aprinus Salam
Hal penting yang mendasar dan perlu diketahui oleh seseorang ketika akan menulis adalah tulisan tersebut akan dimuat dalam bentuk apa. Pemahaman tersebut penting untuk menghindari peracuan yang bisa jadi akan ditemui di tangah jalan penulisan. Misalnya, ketika ia seharusnya menulis berita, tapi karena tidak mampu membendung opini subjektivitasnya, maka berkemungkinan menjadi essai, atau ketika hendak menulis feature malah yang jadi fiksi
Dengan mengenal wilayah tulisan kita menjadi tahu bahwa bentuk tulisan yang kita pilih termasuk dalam wilayah mana sehingga dengan mudah kita kemudian akan menentukan langkah-langkah beserta rambu-rambu yang memagarinya. Misalnya, ketika kita menulis berita tidak boleh memasukkan opini pribadi kita sendiri, juga tidak boleh memasukkan realitas yang direka-reka. Karena begitu sebuah berita kemasukan opini atau khayalan, maka nilai berita itu akan menjadi rusak.
Dalam konteks inilah perlu “ditegaskan” bahwa pada dasarnya menulis sesuatu itu seperti mengikuti sebuah “konvensi”, semacam prosedur yang harus disepakati dan “ditaati”, semacam aturan main. Kalau kita mau main bulu tangkis, maka aturannya berbeda dengan bermain catur. Kalau kita menulis feature, maka dalam beberapa hal tertentu berbeda dengan menulis cerpen. Deminkianlah, pada dasarnya kita ini seperti terpaksa mengikuti konvensi saja, termaksud konvensi berkehidupan. Mau jadi berbeda dari biasanya?, mau jadi pembaharu?, silahkan!!
Pengertian Feature
Feature adalah berita yang ditulis dengan gaya bercerita dan ditekankan pada sisi-sisi Human interest-nya, yakni sisi-sisi yang secara menusiawi bisa membangkitkan perasaan tertentu dari pembaca. Misalnya, perasaan haru, kagum, belas kasihan, rasa keadilan, simpati, kasih sayang, cinta, senang, terhibur, dan sebagainya. Oleh karena itu, gaya penulisan feature ditekankan pada kemampuannya menyentuh dan membangkitkan perasaan pembaca. Itulah sebabnya, gaya penulisan feature dituntut untuk khas, menarik, basah, mengalir, kaya visi dan dimensi, tidak “kering dan kaku” seperti berita langsung.
Gaya penulisan yang khas, basah dan mengalir (bebas dan luwes) itu membuat feature tidak terikat secara ketat oleh aturan struktur piramida terbalik. Bahkan tidak begitu terikat oleh aktualitas dan momentum. Walaupun aktualitas dan momentum sering menjadi salah satu pertimbangan menarik atau tidaknya sebuah feature, namun usia kelayakannya lebih lama dibanding straight news. Jika straight news, atau juga bisa disebut hard news atau sport news yang usia kelayakannya tidak lebih dari 24 jam, maka featrue bisa lebih lama lagi. bahkan bisa tahan sampai seminggu asalkan masih memiliki centelan berita (pig news) berupa perkembangan peristiwa itu atau muncul kasus yang ada kaitannya dengan peristiwa tersebut. Atau bahkan lebih. Begitu pula jika meuncul momentum atau peristiwa yang ada kaitannya dengan objek feature tersebut masih layak muat meskipun pokok peristiwanya sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya (feature sejarah). Inilah kelebihan fature dibanding bentuk berita lainnya. Karena itulah, majalah berita mingguan Tempo, Gamma atau Gatra, dan sebagainya memilih bentuk gaya penulisan feature dalam menyajikan berita-beritanya untuk menutup ketertinggalan aktualitas dibanding surat kabar harian.
Meskipun begitu, feature akan memiliki nilai lebih jika dapat ditulis dan disajikan (dimuat) pada kesempatan pertama, ketika orang sedang hangat-hangatnya membicarakan peristiwa yang bersangkutan. Misalnya peristiwa tersebut terjadi sekarang., maka besok orang dapat menikmati featurenya di surat kabar dengan gaya penyajian yang khas dan langkap. Ini terutama untuk feature-feature peristiwa.
Jenis-Jenis Feature
Selama ini kita mengenal bermacam-macam jenis feature. M. Wonohito dalam buku Berita menyebutkan ada enam jenis, yaitu Feature Human Interest, feature sejarah (historical feature), kisah mengenai riwayat hidup atau kepribadian seseorang (biographical and personality), kisah perjalanan (travel), kisah yang memberi petunjuk dan menguraikan sesuatu (explanatory and how-to-do-it), dan feature ilmu pengetahuan (scientific). Disamping itu, kita mengenal juga apa yang disebut feature murni dan feature kopi (sidebar). Berikut beberapa sisi feature :
Feature Human Interest atau feature murni adalah jenis berita yang mengangkat kisah manusia biasa dalam peristiwa luar biasa. Atau sebaliknya, kisah menusia besar dalam peristiwa biasa, dalam lingkungan biasa (di tengah masyarakat awam), dan sebagainya.
Feature Sejarah, yakni feature yang mengangkat peristiwa masa lalu, tetapi memiliki makna sosial dan politik yang selalu relevan.
Feature riwayat hidup atau kepribadian seseorang, tulisan yang mengangkat riwayat hisup atau kepribadian tokoh-tokoh masyarakat yang penting, baik karena kedudukannya, kreativitasnya, popularitasnya, kepribadiannya, jasa-jasanya dan sebagainya.
Feature perjalanan, mengangkat kisah perjalanan seseorang karena ada sesuatu yang menarik dan luar biasa, atau penuh petualangan yang mendebarkan.
Feature pemberi petunjuk atau uraian sesuatu. Berisi tentang petunjuk untuk mencapai sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Dalam feature ini bisa pula feature tentang masakan, tip-tip memelihara kesehatan dan lain-lain.
Feature pengetahuan, biasanya berisi tentang sesuatu penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kisah suatu penelitian dan sebagainya.
Feature kedai kopi, mengangkat kisah-kisah atau sisi-sisi yang menarik dari lingkungan kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengisahkan suka-suka penjual bakso keliling, para pedagang atau buruh gendong Bringharjo, penambang pasir di Kulon Progo, dan sebagainya. Objek feature ini paling gampang dicari dan setiap saat bisa dibuat.
Feature Peristiwa, yakni feature yang mengangkat aktual apasaja dengan mnitikberatkan pada sisi human interst-nya, atau sisi di balik peristiwa. Feature ini sering hanya merupakan gaya penulsian saja kerena sering bahan-bahannya hanya peristiwa biasa yang di koran harian diangkat sebagai straight news. Banyak ditemukan di majalah-majalah berita mingguan.
Yang Perlu Diperhatikan
Tentu dalam hal-hal “objektif” yang perlu dipertimbangkan agar feature kita menarik perhatian orang untuk dibaca. Karena secara keseluruhan adalah bagian dari tulisan jurnalistik, maka kriteria “objektif” yang perlu diperhatikan relatif sama dengan tulisan jurnalistik (berita) yang lain. misalnya saja, apakah tulisan tersebut melibatkan (kepentingan orang banyak), apakah ada unsur konfliknya, kompetisi, progres, seks, kengerian, keanehan, kedekatan wait/jarak, simpati, tingkat ketenaran objek/subyak, konsekuensi, dan sebagainya. Semakin banyak tulisan kita mengandung unsur yang dipertimbangkan tersebut, dapat dibayangkan jika tulisan tersebut akan semakin menarik perhatian orang banyak.
Langkah-langkah Penulisan Feature
Langkah pertama, yang ditempuh penulis feature ada;ah mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan. Ada banyak cara untuk ini. misalnya observasi (datang langsung ke objek penulisa) interview (melakukan serangkaian wawancara dengan sumber-sumber primer maupun sekunder), dan mencari di buku atau media massa lain sebagau pelengkap. Apa yang perlu dilakukan dalam mengumpulkan bahan sering sangat tergantung pada jenis feature yang akan ditulis dan macam bahan yang diperlukan. Untuk menulis feature sejarah, misalnya, sering cukup hanya mencari sumber pustaka. Akan tetapi, jika masih ada pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup, feature ini akan lebih menarik dan berharga jika dilengkapi dangan wawancara dengan tokoh yang masih hidup ini. kita bisa mengungkap sisi lain yang tidak atau belum tertulis dalam buku pustaka.
Setelah seluruh bahan yang dianggap diperlukan terkumpul, kemudian tinggak memilih dan mengorganisasi sesuai dengan stressing yang kit tentukan. Pemilihan stressing ini tentu yang diperkirakan menarik bagi pembaca. Misalnya, kita akan menulis tentang pasar Bringharjo, tentu kita tidak akan mengangkat seluruh aspeknya, karena akan terlalu penjangn dan sulit dilakukan. Namun, kita bisa memilih, misalnya aspek sejarah berdirinya saja. bisa jadi hanya keunikan bangunannya, suasana pada bulan puasa, kehidupan buruh gendongnya, atau peranannya bagi gerak hisup suasana masyarakat Yogya, dan sebagainya.
Pemilihan stressing tersebut bisa juga kita lakukan sebelum kita mengumpulkan bahan. Dengan menentukan stressing sebelum mengumpulkan bahan, kita akan mendapat pedoman bahan apa saja yang kita butuhkan sehingga kita tidak perlu mengumpulkan seluruh informasi atau data tentang pasar tersebut. Hal ini akan menghemat wait dan tenaga, sehingga tidak akan ada kerja keras kita yang sia-sia. Pemilihan stressing dilakukan setelah pengumpulan data hanya kita kerjakan jika kita “masih buta” atau belum tahu persis tentang sisi atau aspek mana yang paling menarik pada objek yang akan kita garap. Sayangnya, justru ini paling sering terjadi. Dalam kondisi semacam ini kita memang sebaiknya mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya dari berbagai aspek. Setelah semuanya terkumpul, barulah kita menilai semua aspek yang ada, mana yang paling menarik untuk diangkat menjadi feature. Dangan cara ini kita bisa menulis feature dari satu feature tnetang suatu objek. Langkah selanjutnya adalah menggarap bahan-bahan itu menjadi fature. Untuk ini kita bisa memulai dari mana saja, dengan teknik atau gaya tulisan apa saja sesuai dengan selera dan cita rasa kita terhadap objek. Tentu yang paling baik adalah dengan teknik dan gaya khas kita. Yang perlu diyakini dalam hal ini adalah bahwa penulisan feature babas memilih struktur. Tidak terikat dengan struktur piramida terbalik, sebagaimana kalau kita menuli streight news.
Yang terpenting dalam menulis feature adalah bagaimana dengan teknik tertentu penulis bisa membangun ketegangan, daya cekam, keharuan, datau daya sentuh yang mampu menghanyutkan perasaan pembaca untuk melahap feature tersebut sampai habis. Daya cekam tersebut bisa dibangun melalui narasi, deskripsi, dan dia;og. Karena itu bentuk feature sering mirip dengan cerpen, dimulai dengan pelukisan suasana mencekam, kemudian bergerak kepengisahan yang menegangkan dan dramatis, menuju klimaks dan dialhiri anti klimaks. Jadi, seperti ada plotnya. Bisa kronologis, bisa balik, atau perkawinan keduanya.
Akan tetapi, tentu tetap berbeda dengan cerpen yang dibangun dengan elemen-elemen imajinatif (khayal) karena feature tetap dibangun dengan elemen-elemen fakta. Tapi keduanya memang sama-sama membutuhkan kemampuan berimajinasi penulisnya. Dalam menulis cerpen kemampuan imajinatif itu dibutuhkan untuk melukiskan dunia khayal (rekaan) secara hidup, sedangkan dalam menulis feature kemampuan imajinatif dibutuhkan untuk melukiskan fakta-fakta, peristiwa, suasana, dan gerak dramatik objek menjadi suatu sajian baru (feature) yang benar-benar hidup dan mencekam perasaan.
Karena itu, orang yang tidak mempu berimajinatif tidak akan mempu menulis feature yang baik, sebagaimana pula ia tidak akan mampu menulis cerpen yang baik. Karena itu pula, seseorang yang mempu menulis cerpen yang baik diperkirakan ia akan sangat berpotensi menulis feature yang baik pula. Tampaknya kemampuan berimajinatif yang baik inilah yang sekarang jarang dimiliki oleh wartawan sehingga feature-feature yang mereka hasilkan dan dimuat di berbagai media massa, rara-rata adalah feature yang bruruk, miskin seuasana, miskin ketegangan, miskin imajinasi, dan tak punya daya sentuh. Bahkan banyak yang masih berupa streight news, tetapi sengaja dipasang pada kolom atau rubrik feature, atau mungkin “dipaksakan” oelh redakturnya.
Biasanya satu feature terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, adalah pembukaan, yang melukiskan suasana, potongan dialog, atau bagian peristiwa yang dramatis. Bagian kedua, adalah tubuh feature yang berisi peristiwa atau detail objek. Pada bagian ini dtail peristiwa atau objek diceritakan secara lengkap sesuai dengen stressing yang dipilih. Sementara itu, pada bagian ketiganya adalah penutup yang biasanya berupa klimaks peristiwa, atau bagian yang paling mengesankan. Kisah paling dramatis diletakkan pada bagian akhir feature dengan maksud agar perasaan pembaca bisa terpengaruh dan tidak mudah melupakan feature yang dibacanya. Feature yang berhasil akan selalu meinggalkan kesan yang dalam di hati pembacanya.
(sekedar bacaan pengantar “Pembinaan Penulisan Karya Tulis Siswa”, Bengkel Bahasa, Balai Bahasa Yogyakarta, 4 Juli-19 September 2004.