Oleh : Eko Prastowo
Bila seorang mendengar tentang seorang tentang seorang peneliti, dapat dipatikan di benaknya akan terbayang-bayang seorang yang serius, berkepala botak, selalu dekat dengan buku yang hidupnya banyak dihabiskan di laboraturium. Orang yang mempunyai pendapat seperti itu adalah orang yang kuno. Peneliti bukanlah sosok yang seperti itu. Lalu apa dan bagaimana sosok peneliti itu? Tulisan ini akan sedikit memberi gambaran tentang hal tersebut, baik itu hal yang manis maupun hal yang pahit sekalipun. Terutama bagaimana deskripsi seorang peneliti muda.
Sikap Dasar
Setiap orang tanpa mengenal batas intelektual secara formal dapat menjadi peneliti. Entah dia lulusan SD ataupun profesor semuanya dapat menjadi seorang peneliti. Untuk hal itu kita dapat berkaca dari riwayat Thomas Alfa Edison atau Albert Eisten. Jadi tidak ada syarat apapun untuk menjadi seorang peneliti.
Meskipun begitu bila seseorang ingin menjadi peneliti dia harus belajar tahap demi tahap. Tahap dasar yang harus dimiliki adalah pembentukan jiwa seorang peneliti. Ini adalah tahap yang tersulit, karena ini merupakan pondasi yang menentukan. Adapun jiwa seorang peneliti adalah jiwa ilmiah dan jiwa gelisah. Artinya dia dalam setiap aktifitasnya hidupnya harus berpegang erat pada sikap ilmiah, yaitu sikap rasional yang mempunyai landasan pemikiran yang benar. Sedangkan jiwa gelisah adalah sebuah kegelisahan pikir yang selalu tidak puas dan mempertanyakan segala hal untuk mencapai kebenaran yang obyektif. Inilah dasar-dasar yang harus dimiliki.
Setelah memiliki dasar-dasar itu biasanya seorang peneliti yang baru mulai memeliti akan mengalami banyak rintangan yang tampaknya sulit, namun bila kita mau menganalisa rintangan itu sangalah mudah dilalui. Sebagai contohnya adalah rasa bingung mau memeliti apa? Itu memang tampak sulit tapi bila kita sering membaca buku dan membuka mata untuk melihat segala sesuatu yang ada disekeliling, kita akan dengan mudah menemukan ide-ide yang bagus untuk kita teliti.
Proses Penelitian
Setelah kita mempunyai ide, tibalah kita pada proses penelitian. Banyak sekali peneliti muda (baca : anggota KIR) yang patah semangat dalam proses ini. seperti seorang pendaki gunung, bila dalam pendakian berikutnya dia akan lebih sulit lagi mencapai puncak bahakan sudah tidak mau untuk mengulang pendakian. Dan dalam proses penelitian inilah sebenarnya the real test seorang peneliti. Dia akan diuji dalam segala hal, entah itu etos kerja, keseriusan atau bahkan pengorbanannya.
Tapi seorang yang betul-betul telah memiliki jiwa peneliti akan mempu melaksanakannya. Di awali dengan merumuskan masalah, membuat hipotesa, mengumpulkan data, menguji coba dan akhirnya membuat kesimpulan. Saat selesai semuanya dia sudah memiliki gelar baru “peneliti”. Besar kecilnya kepasdtian hasil penelitiannya bukan masalah, yang pasti dia telah melakukan sesuatu bagi perkembangan ilmu pengetahua.
Organisasi Ilmiah Remaja
Latar belakang terbentuknya organisasi KIR di Indonesia tumbuh pada tahun 1969 yaitu Harian Berita Yudha dengan mendirikan RYC (Remaja Yudha Club). Pada tahun itu juga dilakukan pengembangan KIR oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) berdasarkan konsep dari konferensi anak-anak se-Dunia (UNESCO), pada tahun 1963 di Grenoble, Perancis. Di tahun-tahun berikutnya KIR senantiasa berkemabng. Hampir di setiap sekolah menengah dapat dijumpai organisasi KIR.
Memang seorang yang ingin menjadi peneliti tidak diharuskan belajar meneliti melalui KIR. Tapi bila disadari cara belajar lewat KIR inilah cara belajar terbaik bila dia ingin menjadi peneliti. Di dalam KIR akan ditemukan banyak sekali manfaat baik yang dapat dipetik sekarang ataupun kelak, KIR adalah investasi akademik. Dapat dikatakan KIR adalah ekstarakulikuler yang memiliki nilai lebih dibanding ekstra lainnya. Karena KIR dapat menjadi wadah prestasi juga dapat menjadi sarana pendukung kegiatan akadimik yang kulikuler. Maka manfaatkan KIR dengan sebaik-baiknya.
Seribu Manfaat
Seperti telah ditulis di atas tadi bahwa ada sekian banyak manfaat bila menjadi peneliti muda atau anggota KIR. Segudang prestasi dan prestise tersedia disini. Contoh kecilnya yang real, bila kita terbiasa meneliti dan membuat karya ilmiah nantinya bila kita susah berada di jenjang pendidikan tinggi kita akan merasa menfaatnya saat kita membuat paper atau skripsi. Yang lebih dekat apabila kita bisa meraih prestasi dalam KIR, seperti finalis LKIR atau LPIR. Beragam hadiah dan penghargaan akan diterima fan kita menjadi seorang master figur bagi remaja lainnya. Suatu kebanggaan tersendiri tentunya. Apalagi hal itu juga diakui tidak hanya kalangan remaja tapi pejabat tinggi negara bahkan presiden sekalipun.
Namun sekali lagi semua itu tidaklah suatu pekerjaan yang mudah, bukanlah barang yang dapat dibeli dengan uang. Tapi semua itu adalah perjuangan yang penuh suka duka, up and down.
(Disampaikan pada acara orientasi Kelompok Ilmiah Remaja, SMA Muhammadiyah III Yogyakarta, tanggal 24 Agustus 1995.)